Oct 26, 2014

Mintalah

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak singgah dan menulis sesuatu di blog ini. Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi belakangan, saya pun melupakan blog yang telah saya buat dan besarkan sekitar 5/6 tahun silam. Untungnya salah satu teman blog sekaligus teman kuliah saya, Cahyo, menyadarkan saya kembali (secara tidak langsung) untuk bangun dari tidur panjang dan mengaktifkan kembali blog yang telah lama terbengkalai ini. (untuk Cahyo, jika kamu membaca tulisan ini, saya ucapkan terima kasih banyak kepadamu.)

Kali ini sebagai postingan awal setelah lama menghilang, saya ingin menceritakan pengalaman saya beberapa bulan silam. Pengalaman yang membuat saya yakin kembali bahwa jika kita meminta petunjuk kepada Sang Maha Memberi Petunjuk, niscaya Dia akan memberikan petunjuk dari apa yang kita minta (meskipun dengan cara yang tidak kita duga sebelumnya).

Jadi ceritanya, saya mendapatkan tugas untuk membuat buku tentang Raeni (untuk selanjutnya akan saya panggil Mbak Raeni, karena begitu saya biasa memanggilnya). Jika Anda aktif atau setidaknya pernah bermain internet, Anda pasti tahu siapa Mbak Raeni. Mbak Raeni adalah mahasiswa peraih beasiswa Bidik Misi dari Unnes yang mendapatkan predikat cumlaude karena prestasinya. Akan tetapi bukan predikat cumlaude itu yang menjadikannya terkenal, melainkan aksi ikoniknya saat menghadiri upacara wisuda. Mbak Raeni dengan PD-nya naik becak yang dikayuh oleh sang ayahanda tercinta. Bukanya malu, mereka berdua malah menikmati aksi yang tidak biasa tersebut. Mbak Raeni memang bertujuan memberikan inspirasi bagi adik kelasnya untuk lebih berani dan tidak minder dalam menuntut ilmu serta menggapai impiannya. Sebuah aksi sederhana yang akhirnya tersebar secara viral melalui internet.

Oke, kembali ke topik pembahasan. Berhubung di tempat saya tidak ada seorang pun yang tahu kontak Mbak Raeni, saya pun menjadi bingung bagaimana megontak dia. Terlebih dia bukan orang yang gampang ditemukan di sosial media, karena setelah saya cari ke sana-kemari, saya hanya mendapatkan beritanya saja, bukan akun jejaring sosial miliknya. Saya pun mencoba mengontak teman seorang wartawan. Saya berpendapat dia pasti memiliki kawan sesama wartawan yang pernah meliput Mbak Raeni. Namun hasilnya tetap nihil, saya masih tidak mendapatkan kontaknya sama sekali.

Hingga pada suatu hari, saya melakukan dialog dengan Tuhan (apakah ini doa atau semacam pengaktifan hukum tarik-menarik, terserah bagaimana Anda menganggapnya). Sebuah dialog sederhana untuk mendapatkan petunjuk akan kontak Mbak Raeni. Setelahnya pun saya merasa beban keharusan untuk mendapatkan kontak Mbak Raeni menghilang layaknya gelembung sabun yang pecah di udara. Saya hanya merasa yakin bahwa Tuhan akan membalas permintaan saya.

Keajaiban pun terjadi, kejadiannya sore hari tepat saat saya sedang menunggu lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau. Saya memandangi lampu lalin tersebut dan tiba-tiba secara kebetulan muncul di dalam pikiran untuk mengontak akun jejaring sosial Kota Kendal - karena saya merasa bahwa saat ini tiap kota di Indonesia memiliki akun jejaring sosial, dan saya dapat meminta bantuan dari admin di Kota Kendal. Saya pun berpikir dalam hati, apakah ini jawaban dari Sang Maha Menjawab?

Setelah pulang saya pun mencari akun Kota Kendal di Twitter, dan ternyata memang ada. Saya langsung mengontak akun tersebut untuk meminta informasi, meskipun pada awalnya saya ragu apakah pesan dari saya akan ditanggapi. Namun yang terpenting saya telah mencoba, semoga memang itulah jalannya.

Hari berganti hari, dan saya pun terkejut karena pesan saya ditanggapi. Tidak hanya itu saja, pihak dari akun jejaring tersebut (@InfoKendal) dengan senang hati akan mencarikan kontak Mbak Raeni. Sekali lagi saya harus menunggu bagaimana kisah ini berlanjut, apakah pada akhirnya saya bisa mendapatkan kontak Mbak Raeni atau tidak.

Ternyata kabar gembira pun menghampiri saya. Setelah beberapa hari (atau minggu bahkan) pihak @InfoKendal memberikan alamat beserta nomor kontak dari Mbak Raeni. Hal ini memakan waktu yang lumayan lama karena ternyata Mbak Raeni tidak ada di Kendal, melainkan di Semarang. Pihak Kendal pun harus bolak-balik ke rumah Mbak Raeni untuk dapat menemui Mbak Raeni secara langsung dan menceritakan maksud saya untuk dapat menghubunginya.

Singkat cerita saya pun mendapatkan kontak Mbak Raeni dan berkomunikasi langsung dengannya. Tidak hanya itu saja, akhirnya saya pun dapat bertatap muka dengan Mbak Raeni di Semarang untuk membahas lebih jauh proyek buku tersebut. Mbak Raeni ternyata pribadi yang sangat ramah dan rendah hati. Sosok yang memang patut menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang. Saya pun belajar banyak hal darinya.



Dari pengalaman ini, saya kembali disadarkan bahwa jika kita meminta sesuatu kepada Sang Maha Menjawab Permintaan, niscaya kita akan mendapatkan jawaban dari permintaan tersebut. Asalkan kita yakin dan paham akan pesan-pesan yang diberikan oleh-Nya. Yang kita butuhkan hanyalah keyakinan dan kesabaran untuk menunggu jawaban tersebut datang kepada kita.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip salah satu tweet favorit dari akun favorit saya @TheGodLight

If you do not ask you will not receive, if you do not ask God for help, it is no good complaining after the event.
Yup, kita harus meminta kepada Sang Pemberi Kehidupan untuk apapun dalam hidup ini. Tidak bijak jika kita selalu komplain akan hal-hal yang terjadi dalam hidup, padahal kita tidak meminta pertolongan atau bantuan dari-Nya. Mungkin kisah dari Mbak Raeni sendiri juga bisa menjadi contoh yang bagus akan hukum tersebut.


Related Articles

2 comments:

  1. Cool! Mas Pondra sekarang nulis buku? Aku mau baca. Sukses terus ya mas. :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.