Showing posts with label story of my life. Show all posts
Showing posts with label story of my life. Show all posts

Aug 25, 2016

Cloud Cult: Mencari Spiritualitas Lewat The Seeker

Setelah album Love tahun 2013 yang bisa dibilang karya terbaik mereka, saya sempat skeptis apakah Cloud Cult bakal bisa menciptakan album yang sama baiknya dengan album tersebut, minimal tidak mengecewakan. 


Ketika single pertama mereka, No Hell, dirilis saya malah menjadi semakin skeptis akan album baru mereka nanti. Single tersebut memang tidak mengecewakan, namun terdengar kurang epic dibanding lagu-lagu terdahulu. OK, untuk tahun ini mereka boleh dimaafkan, setidaknya selama sepuluh tahun terakhir mereka telah menghasilkan karya-karya gemilang. Untuk yang belum tau band seperti apa itu Cloud Cult, biografi singkat berikut mungkin bisa menjadi petunjuk.

Short bio: Cloud Cult began as Craig Minowa’s solo studio project, and over the course of ten studio albums the band has grown with an evolving lineup of musicians. Cloud Cult has received accolades including MTV, New York Times, Entertainment Weekly and has had several albums at the top of the college radio charts. They've declined major record label deals in favor of staying independent. Rollingstone ranks Cloud Cult in the Top 10 greenest bands. (www.cloudcult.com)


Memasuki tanggal rilis di bulan Februari 2016, keraguan saya terbantahkan ketika album The Seeker akhirnya keluar. Setelah memasang earphone dan menekan tombol play, track pertama pun dimulai. Saya langsung dibuat takjub karena diajak menyusuri lautan perasaan melalui alunan instrumental Living in Awe (Birth). Suatu pengalaman yang tidak saya duga. Terlebih lagi ini menjadi lagu latar trailer film yang juga mereka sutradarai berjudul sama, The Seeker. Bayangkan sinematografi ala The Trees of Life dipadukan dengan ambient-instrumental ala Rhian Sheehan. Right in that feel sekali pokoknya! Kehangatan rasa haru langsung berkumpul tepat ke dalam jantung saya. Apalagi di akhir lagu disisipi lirik singkat yang membuat lagu ini semakin lengkap dan siap sebagai pembuka keseluruhan album:

The Great Mystery cannot be solved.
There will be joy and grief,
but live it all in awe.

Yup, apa pun yang terjadi dalam timeline hidup kita ke depan nanti, jalani dengan kekaguman. Life is a blessing, right? Singkat, mengena, dan penuh harapan.

Lagu pertama langsung memberikan pesan inspiratif. Sebuah pembuka yang sempurna. Lalu bagaimana dengan lagu selanjutnyta? To The Great Unknown memberikan kesan yang kurang lebih sama dengan lagu pertama. Hanya saja lebih menggugah hati untuk mulai bertindak, tidak hanya mengawang-awang dan merenungi apa yang akan dilakukan. Kepercayaan saya akan album ini pun sedikit demi sedikit bertambah.

Masuk ke lagu ketiga, Days to Remember, otak saya semakin yakin bahwa inilah album yang benar-benar saya cari. Hentakan drum dan kombinasi piano melipatgandakan semangat saya untuk segera bertindak dengan hidup saya. Kemudian memasuki lagu Time Machine Invention yang terdengar seperti aransemen lagu klasik mereka, Fairy Tale, dengan perubahan lirik tentang seorang pengelana waktu, telah berhasil menghipnotis saya untuk mulai menghargai saat ini, detik ini, dan hari ini:

I’ve finally solved the puzzle of my time machine invention.
You see, in the future, this present is the past, so
If you give this moment your fullest attention
We’ll just keep going forwards with no need for going back.

Memasuki lagu-lagu selanjutnya, saya semakin dibuat percaya bahwa Cloud Cult telah berhasil menciptakan album yang lebih baik dari sebelumnya. Formula yang mereka ciptakan memang tidak se-ngerock album Love, dan rasanya mereka jauh lebih mengerti bahwa ada area lain dalam musik mereka yang dapat dimaksimalkan sebagai album ke-10: lirik yang lebih spiritual, ambient yang lebih terasa, petikan akustik yang lebih menonjol, dan permainan piano yang lebih hidup. Kombinasi yang menciptakan album The Seeker semakin istimewa. Tidak perlu mengulagi resep ”seriang dan sekeras” Love. Menjadi kontemplatif saja ternyata sudah lebih dari cukup.

Sudah 6 bulan sejak pertama kali saya mendengarkan album ini, saya pun semakin merasakan perjalanan spiritual layaknya yang disampaikan dalam album The Seeker. Sebagai makhluk spiritual yang merasakan pengalaman dunia, manusia pada dasarnya akan selalu mencari cara untuk merasakan pengalaman transendental dari mana mereka berasal. Pengalaman yang akan memperkaya jiwa, mendorong untuk berani menghadapi ketidakpastian, keberanian merasakan suka duka, menikmati saat sekarang, move on dari kekecewaan, dan menjadi positif di setiap kesempatan. Pada akhirnya kita diingatkan untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia yang tidak hanya hidup untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain dan seluruh alam beserta segala isinya. The Seeker telah berhasil memberikan pengalaman tersebut.

Bagi saya, The Seeker mengungguli album Love dan album-album Cloud Cult sebelumnya, dan Cloud Cult tetap menjadi band yang berhasil memperkaya pendengaran, kreatifitas, dan jiwa saya. Boleh dibilang merekalah satu-satunya band dari sekian ribu artis/band yang pernah saya dengarkan (sejak duduk di bangku TK hingga duduk menulis tulisan ini) yang berhasil mengubah saya secara emosional, perbuatan, spiritual, dan cara pandang dalam melihat dunia.



Jul 27, 2015

Berlatih, Berlatih, dan Berlatih


Setelah sekian lama vakum dari dunia per-blogging-an, akhirnya saya putuskan untuk memaksakan diri kembali lagi ke permukaan. Yaayyy, akhirnyaaa!! Sebenarnya butuh niat ekstra keras untuk mengetikkan jari-jemari di atas keyboard dan memunculkan ide untuk dituliskan di sini. Tapi mau tidak mau saya tetap harus memaksakan diri untuk memulai kembali niat baik nan tulus ini. Jika otak dibiarkan saja diam dari menulis, tentu blog ini hanya akan tinggal URL saja nantinya. Setidaknya harus ada tulisan yang rutin diposting di blog ini mulai dari sekarang, walaupun kurang penting sekalipun, toh tidak ada yang baca juga. Siapa tahu menulis blog seperti ini menjadi golden ticket dalam proses penggapaian impian di depan kelak. Aamiin. 


Oke, untuk postingan kali ini saya ingin memposting salah satu pencapaian yang akhirnya berhasil saya gapai di tahun 2015 ini. Bukan sesuatu yang penting bagi bangsa, negara, dan masyarakat Indonesia, namun setidaknya penting bagi diri saya sendiri. Yup, akhirnya setelah sekian lama berangan-angan, saya berhasil memainkan Falling Into You milik MAE. *clapping hands!! Tentunya setelah melalui berjam-jam dan ratusan kali percobaan hingga menahan perihnya jari-jari yang mulai sedikit mengelupas. Perih tapi benar-benar puas.

Bagaimana tidak puas, Falling Into You adalah salah satu lagu akustik instrumental yang berhasil membentuk masa akhir kuliah dan pascakuliah saya beberapa tahun silam. Lagu ini telah menjadi semacam soundtrack dalam kehidupan saya ketika mengalami masa-masa yang penuh luapan perasaan dan emosi di kala itu. Sebuah lagu yang benar-benar manis tersaji dalam dawai gitar akustik.

Falling Into You adalah lagu dari album EP,"(a)fternoon", yang paling 'ngena' menurut saya. Bagi saya pribadi, lagu ini berhasil menggambarkan suasana siang hari menjelang sore (jam 2 siang mungkin) saat bersantai menikmati weekend dan waktu luang, bisa sendirian ataupun bersama keluarga tercinta. Itulah suasana di mana kita tidak memikirkan beban sama sekali dan hanya menikmati keberadaan kita di alam semesta. Perasaan yang penuh nostalgia pastinya.

Berbicara EP milik MAE, belum afdol jika tidak menyinggung EP yang lain. MAE punya langkah brilian untuk membuat album EP-nya menarik. Dibagi menjadi 3 album, band yang merupakan singkatan dari Multi-sensory Aesthetic Experience ini menamakan tiap EP dengan: (m)orning, (a)fternoon, dan (e)vening. Selain tema yang saling berkaitan, huruf awal dari judul tersebut jika digabung akan tertulis MAE. Gagasan yang benar-benar brilian!






Yang pasti, tidak hanya konsepnya saja yang brilian, lagu-lagu di album ini pun juga tidak boleh ketinggalan untuk didengarkan. Sudah sekian tahun saya tidak lagi mendengarkan lagu-lagu mereka. Tapi seminggu lalu entah kenapa tiba-tiba saya ingin mendengarkan Falling Into You dan benar-benar belajar untuk bisa memainkan lagu tersebut. Alhamdulillah, setelah berlatih, berlatih, dan berlatih akhirnya saya pun berhasil.


Dec 31, 2014

Albums of the Year 2014

I remember that i used to listen 'This Year' by The Mountain Goats as the year began. It was a sort of interesting acoustic song driven by monotonous drum beat that was easy to hum to. Besides, I found an interesting line as well that said something like this; 'I'm gonna make it through this year, if it kills me'. Such an evoking lyric to start the year.

I wondered then, would this year bring something more exciting and lively than the year before? Or would it bring something burdening till the end? The answer revealed after i came through. Twelve months were needed to understand the answer of my question. Twelve months were needed to tell myself that this was the year that i could finally survive of.

The year was full of unpredictable scenes. It was surely made of amazing happiness and detailed by some downfalls and grievances. It was the year of unforgettable moments; environmental movement volunteering, new job, upside-down love life, family lost, baby born, and many other things that made this year imperfectly meaningful. It was the year that was full of tear, but somehow, joy could still fitted in. Whatever this year came by, i finally could make it. This year seemed like killing me, but thankfully i didn't die instead. All the things happened, and they remind me to be more grateful for every single thing. This was the year that taught me about life to live in, to let go something i barely had control over it, and to move on for the new life in front of me.

And these are newly released albums that i mostly listened to accompany myself during my life-sailing on the year 2014. These are the albums that coincidentally successful coloring my life. 


10. Colbie Caillat - Gypsy Heart 


(pop/acoustic/female vocalist)

Somehow, Colbie reminds me to my friend who has similar face with her. And i think that is the reason why i listen to her songs. However, Gypsy Heart is a kind of pop album that can be enjoyed by everyone; easy to listen, danceable beat, hummingable tune, pretty vocal, and of course beautiful face.

09. Sleeping At Last - Atlas: Ocean [EP]


(instrumental/piano/ambient)

Another ambitious project after 'Yearbook'. Unlike 'Yearbook' which is named by the name of each month, Atlas tries capturing geographical elements into the name of each EP. 'Oceans' is one of them. Composed by 5 tracks with the name of 5 oceans in the world; Pacific, Atlantic, Indian, Southern, Arctic, the album successfully creates amazing piano-based instrumental music. Each song successfully visualizes the enigmatic and  majestic charm of the ocean. Such an excellent album for mind-wandering!

08. Tigers Jaws - Charmer


(indie rock/pop punk/emo)

I thought this band existed no more, but i was proofed wrong. They finally returned into pop punk scene again with this nice album. Although only 2 members left, but they still made an interesting album to listen.

07. Pompeii - LOOM


(indie rock/indie/post-rock)

I was surprised to know that this band finally released their new album though they failed the kickstarter project; such a good surprise actually. Moreover they returned with more post-rockish tune that made the album pretty nice. 

06. Accents - Tall Tales


(alternative/indie rock/acoustic)

Have you ever wondered that as you grow older, sometimes you do not get what you've already dreamed of as you were a kid? Accents tries to emphasize and rationalize that theme in a positive way. They try telling the listeners that still there are so many things in life to be grateful for.  

05. Andrew Jackson Jihad - Christmas Island


(indie rock/acoustic/folk punk)

The latest album of Andrew Jackson Jihad and the most popish among others. I always like the way how they combine folk and punk altogether. Although they put more instrumentation, but the acoustic tune still can be heard. And it made the album more interesting. 

04. Abby Gundersen - Time Moves Quickly


(piano/instrumental/ambient)

Abby Gundersen realizes that time surely moves quickly and passes everything behind. Through this album, she tries to capture the stillness of each moment. She successfully does. Everytime i listen to the music, i feel drowned into the moment of my present life. Such captivating classical-piano based album!  

03. Noah Gundersen - Ledges


(folk/acoustic/singer-songwriter)

The year 2014 wasn't complete without this album. Along with his sister Abby Gundersen, Noah Gundersen played pretty good mature folk song to listen. With little bit sound of indie rock, this album can be a good companion for spending leisure time or doing some stuff. 

02. Peter Bradley Adams - The Mighty Storm


(folk/acoustic/singer-songwriter)

As always, Peter Bradley Adams impressed me with his beautifully crafted folk songs. His musical style didn't change really much, but that was the formula that made the album powerful. This was the second time i bought music from the internet, and it was worth the buy.   

01. Cloud Cult - Unplug


(acoustic/alternative/experimental)

This album successfully summed up my year of 2014; an Unplug album from Cloud Cult with songs containing beautiful and philosophical meaning. The Songs covered such themes including welcoming baby born, letting go the death of family member, becoming more responsible in life, and other reflective yet optimistic theme. And yes, those are the things that i had been through on the year 2014.

For me, personally, this album is more like a reminder to deal with reality. I just feel grateful for having a chance to know this acoustic album. Like i said as always, it is the music that finds the listeners. And i think Unplug has already found its listener.



Oct 26, 2014

Mintalah

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak singgah dan menulis sesuatu di blog ini. Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi belakangan, saya pun melupakan blog yang telah saya buat dan besarkan sekitar 5/6 tahun silam. Untungnya salah satu teman blog sekaligus teman kuliah saya, Cahyo, menyadarkan saya kembali (secara tidak langsung) untuk bangun dari tidur panjang dan mengaktifkan kembali blog yang telah lama terbengkalai ini. (untuk Cahyo, jika kamu membaca tulisan ini, saya ucapkan terima kasih banyak kepadamu.)

Kali ini sebagai postingan awal setelah lama menghilang, saya ingin menceritakan pengalaman saya beberapa bulan silam. Pengalaman yang membuat saya yakin kembali bahwa jika kita meminta petunjuk kepada Sang Maha Memberi Petunjuk, niscaya Dia akan memberikan petunjuk dari apa yang kita minta (meskipun dengan cara yang tidak kita duga sebelumnya).

Jadi ceritanya, saya mendapatkan tugas untuk membuat buku tentang Raeni (untuk selanjutnya akan saya panggil Mbak Raeni, karena begitu saya biasa memanggilnya). Jika Anda aktif atau setidaknya pernah bermain internet, Anda pasti tahu siapa Mbak Raeni. Mbak Raeni adalah mahasiswa peraih beasiswa Bidik Misi dari Unnes yang mendapatkan predikat cumlaude karena prestasinya. Akan tetapi bukan predikat cumlaude itu yang menjadikannya terkenal, melainkan aksi ikoniknya saat menghadiri upacara wisuda. Mbak Raeni dengan PD-nya naik becak yang dikayuh oleh sang ayahanda tercinta. Bukanya malu, mereka berdua malah menikmati aksi yang tidak biasa tersebut. Mbak Raeni memang bertujuan memberikan inspirasi bagi adik kelasnya untuk lebih berani dan tidak minder dalam menuntut ilmu serta menggapai impiannya. Sebuah aksi sederhana yang akhirnya tersebar secara viral melalui internet.

Oke, kembali ke topik pembahasan. Berhubung di tempat saya tidak ada seorang pun yang tahu kontak Mbak Raeni, saya pun menjadi bingung bagaimana megontak dia. Terlebih dia bukan orang yang gampang ditemukan di sosial media, karena setelah saya cari ke sana-kemari, saya hanya mendapatkan beritanya saja, bukan akun jejaring sosial miliknya. Saya pun mencoba mengontak teman seorang wartawan. Saya berpendapat dia pasti memiliki kawan sesama wartawan yang pernah meliput Mbak Raeni. Namun hasilnya tetap nihil, saya masih tidak mendapatkan kontaknya sama sekali.

Hingga pada suatu hari, saya melakukan dialog dengan Tuhan (apakah ini doa atau semacam pengaktifan hukum tarik-menarik, terserah bagaimana Anda menganggapnya). Sebuah dialog sederhana untuk mendapatkan petunjuk akan kontak Mbak Raeni. Setelahnya pun saya merasa beban keharusan untuk mendapatkan kontak Mbak Raeni menghilang layaknya gelembung sabun yang pecah di udara. Saya hanya merasa yakin bahwa Tuhan akan membalas permintaan saya.

Keajaiban pun terjadi, kejadiannya sore hari tepat saat saya sedang menunggu lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau. Saya memandangi lampu lalin tersebut dan tiba-tiba secara kebetulan muncul di dalam pikiran untuk mengontak akun jejaring sosial Kota Kendal - karena saya merasa bahwa saat ini tiap kota di Indonesia memiliki akun jejaring sosial, dan saya dapat meminta bantuan dari admin di Kota Kendal. Saya pun berpikir dalam hati, apakah ini jawaban dari Sang Maha Menjawab?

Setelah pulang saya pun mencari akun Kota Kendal di Twitter, dan ternyata memang ada. Saya langsung mengontak akun tersebut untuk meminta informasi, meskipun pada awalnya saya ragu apakah pesan dari saya akan ditanggapi. Namun yang terpenting saya telah mencoba, semoga memang itulah jalannya.

Hari berganti hari, dan saya pun terkejut karena pesan saya ditanggapi. Tidak hanya itu saja, pihak dari akun jejaring tersebut (@InfoKendal) dengan senang hati akan mencarikan kontak Mbak Raeni. Sekali lagi saya harus menunggu bagaimana kisah ini berlanjut, apakah pada akhirnya saya bisa mendapatkan kontak Mbak Raeni atau tidak.

Ternyata kabar gembira pun menghampiri saya. Setelah beberapa hari (atau minggu bahkan) pihak @InfoKendal memberikan alamat beserta nomor kontak dari Mbak Raeni. Hal ini memakan waktu yang lumayan lama karena ternyata Mbak Raeni tidak ada di Kendal, melainkan di Semarang. Pihak Kendal pun harus bolak-balik ke rumah Mbak Raeni untuk dapat menemui Mbak Raeni secara langsung dan menceritakan maksud saya untuk dapat menghubunginya.

Singkat cerita saya pun mendapatkan kontak Mbak Raeni dan berkomunikasi langsung dengannya. Tidak hanya itu saja, akhirnya saya pun dapat bertatap muka dengan Mbak Raeni di Semarang untuk membahas lebih jauh proyek buku tersebut. Mbak Raeni ternyata pribadi yang sangat ramah dan rendah hati. Sosok yang memang patut menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang. Saya pun belajar banyak hal darinya.



Dari pengalaman ini, saya kembali disadarkan bahwa jika kita meminta sesuatu kepada Sang Maha Menjawab Permintaan, niscaya kita akan mendapatkan jawaban dari permintaan tersebut. Asalkan kita yakin dan paham akan pesan-pesan yang diberikan oleh-Nya. Yang kita butuhkan hanyalah keyakinan dan kesabaran untuk menunggu jawaban tersebut datang kepada kita.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip salah satu tweet favorit dari akun favorit saya @TheGodLight

If you do not ask you will not receive, if you do not ask God for help, it is no good complaining after the event.
Yup, kita harus meminta kepada Sang Pemberi Kehidupan untuk apapun dalam hidup ini. Tidak bijak jika kita selalu komplain akan hal-hal yang terjadi dalam hidup, padahal kita tidak meminta pertolongan atau bantuan dari-Nya. Mungkin kisah dari Mbak Raeni sendiri juga bisa menjadi contoh yang bagus akan hukum tersebut.


Mar 31, 2014

Earth Hour Solo: #BijakKertas, 09 Maret 2014



Music:
Artist: Circadian Eyes
Title: Fog
Album: Rain (2010)

Artist: Selfish Whales
Title: So Buttons
Album: Enjoy the Weather (2010)

Untuk kedua kalinya, saya berkesempatan untuk membuat video dokumentasi aksi kampanye relawan Earth Hour Solo awal Maret kemarin. Meskipun sebagian besar scene diambil oleh relawan, namun setidaknya saya mendapat jatah di beberapa bagian serta mengeditnya secara keseluruhan.

Jujur, untuk aksi kali ini saya tidak memiliki konsep awal yg jelas. Untungnya para relawan, yakni sdr. Yoga Daniswara dan sdr. Ahmad Dhafir, mengambil beberapa scene yang menarik. Jadi saya tidak terlalu kesusahan menggabungkannya secara acak dan tanpa konsep awal yang jelas.

Tak terkecuali, lagu latar yang bakal dipakai pun tidak terpikirkan sebelumnya. Alhasil, saya pun memakai 2 buah lagu dalam video dokumentasi ini. Tentunya setelah melalui proses perijinan dengan pemilik lagu. Berikut adalah hasil kerjasama video dokumentasi antara saya dan para relawan Earth Hour Solo.

NB: Entah kenapa ada beberapa bug yang lumayan mengganggu setelah video ini terunggah ke Youtube. Meskipun telah saya coba unggah berulang kali, hasilnya tetap saja sama. Jadi mohon dimaklumi.



Mar 10, 2014

Earth Hour Solo: Trash Free Day, 23 Februari 2014




Music
artist: Circadian Eyes
title: Who We Were
album: Who We Were (2011)

Beberapa minggu lalu, tepatnya tanggal 23 Februari 2014, saya mendapatkan kesempatan untuk mendokumentasikan salah satu aksi relawan Earth Hour Solo. Senang rasanya bisa berkumpul dengan mereka kembali, setelah berpisah lebih dari 1 tahun lamanya.
Bertempat di Car Free Day Slamet Riyadi, saya pun dengan senang hati mengabadikan momen aksi Trash Free Day. Aksi yang bertujuan mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan kebersihan lingkungan ini memberikan banyak gambar yang menarik untuk dibidik. Berawal dari lagu milik Circadian Eyes, ide saya pun berkembang lebih lanjut untuk diaplikasikan ke dalam video ini. Berikut adalah video pertama dokumentasi saya dengan relawan Earth Hour Solo dan dokumentasi kedua secara personal.



Nov 23, 2013

Bagaimana kota kecil yang bernama Solo ini mampu memberikan kesan di dalam kehidupan saya

Menawan dengan Berbagai Cerita



Saya Ferrial Pondrafi - lahir di Kota Solo, dibesarkan oleh keluarga tercinta di Solo, bersekolah hingga kuliah di Solo dan pernah merasakan indahnya jatuh cinta dan sakitnya patah hati saat di Solo. Entah mengapa Solo sangat lekat dengan kehidupan saya selama ini. Bukan saja karena kotanya yang memang menawan, namun hal-hal yang ditawarkan dari Kota Solo itu sendiri memberikan kesan mendalam bagi saya. Bahkan saat bekerja di Jakarta pun, saya masih ingat tentang hal-hal yang ada di kota Solo. Tak hanya sampai disitu, saya pun dipertemukan kembali dengan teman-teman semasa kuliah di Solo. Hmmm, memang Solo senantiasa memberikan kesan tak terlupakan dalam kehidupan saya.


Banyak hal menarik yang dapat diceritakan tentang Kota Solo, baik itu kesan, pagelaran, kuliner, masyarakat atau pun hal lain yang belum disebutkan. Terkadang kita jadi tau hal-hal tersebut bukan saat berada di Kota Solo melainkan saat sedang merantau jauh dari sana. Entah apakah hal ini dirasakan pula oleh para perantau asal Solo yang lain, namun bagi saya pribadi saya sempat merasakannya.


Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang hal-hal apa saja yang pernah saya dapatkan sejak berada di Kota Solo. Tentunya hal-hal tersebut tidak dapat saya temukan di kota-kota lain, bahkan di kota super sibuk dan super ramai seperti Jakarta sekalipun. Hal tersebutlah yang menurut saya menjadikan Kota Solo ngangenin, bergeliat, unik dan lain dari biasanya.

Mungkin hal-hal tersebut pernah kita temui sebelumnya, namun karena tuntutan jaman yang menyibukkan menjadikan kita lupa akan kehadiran hal-hal tersebut. Ok, langsung saja mari kita simak beberapa hal menarik yang pernah saya temukan di Kota Solo tercinta.

Komunitas

Memang tiap Kota memiliki komunitas masing-masing, namun komunitas di Kota Solo itu berbeda. Yang membuat berbeda tentu karena para volunteernya merupakan asli wong Solo - meski ada beberapa dari mahasiswa luar Solo tentunya. Selama saya menjadi volunteer salah satu komunitas bergengsi pada tahun 2012 silam, saya menemukan semangat pertemanan, kebersamaan dan kekeluargaan yang sangat kental sekali dengan budaya Solo.

Saya tidak hanya menjadi bagian dari sebuah komunitas, melainkan dari sebuah Kota Solo itu sendiri. Komunitas lah yang menjadikan Kota Solo bergeliat, bersemangat dan tentu saja lebih hidup - salah satu hal yang masih saya ingat hingga saat ini. Komunitaslah salah satu tempat berkumpul dengan orang-orang yang bersemangat, saling menghargai dan tentu saja saling bekerja sama menjadikan Kota Solo lebih baik.

Earth Hour 2012

Produk Kreatif

Saat berada di Jakarta, saya menemukan sebuah posting blog produk kreatif dari seorang kawan semasa SD. Margrit namanya - sebuah ruang kreatif yang dia ciptakan bersama kekasih tercinta. Meski belum setenar produk kreatif lain yang mulai mewarnai jalan-jalan protokol kota, namun ada perasaan bangga mengetahui bahwa itu adalah produk kreatif milik teman saya.

Setelah saya amati lebih jauh produk-produknya, saya pun sempat berpikir, ternyata produk independent asal Kota Solo tidak kalah bagus dengan produk independent asal Ibukota, malah bisa dibilang memiliki daya tarik yang berbeda. Mungkin sesuatu yang menarik dan berbeda itulah yang menjadikan produk-produk kreatif asal Solo memiliki nilai tersendiri yang tidak dimiliki oleh produk kreatif lain di Indonesia.

Saya kemudian lanjut berpikir, seandainya produk-produk kreatif ini dikembangan dan anak-anak muda Solo lebih bangga dalam memakai produk lokal, saya yakin beberapa tahun mendatang produk-produk kreatif asal Kota Solo menjadi branding Kota yang menarik yang tidak dimiliki kota-kota lain. Dan saat dimana hari itu tiba, saya yakin Margrit telah tumbuh besar menjadi ruang kreatif yang dikenal masyarakat luas.

http://margritview.blogspot.com/

Kuliner

Untuk urusan kuliner jangan tanya. Solo menyuguhkan pilihan kuliner yang beragam, mulai dari harga kaki lima hingga hotel bintang lima, semuanya tersedia di Solo. Beragam pilihan inilah yang membuat Solo penuh dengan tempat-tempat makan yang nyaman untuk bersantai. Bisa dikatakan, hingga sebesar ini saya belum pernah menjajal semua tempat makan yang ada di Solo - karena terlalu banyaknya pilihan tempat makan yang ditawarkan tentu saja.

Saat berada di Kota Solo, saya bersama dengan kakak tercinta selalu mencicipi kuliner-kuliner baru di sana. Sekarang saat jauh dari Kota Solo, saya pun merindukan untuk mencoba tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi. Semoga suatu saat nanti kami dapat pergi bersama lagi untuk merasakan kuliner Solo seperti masa-masa dulu.

Chicken Green Chili - Tom Kedd, Solo, Jawa Tengah
(tempat makan favorit saya dan kakak saya)

Band Indie

Ya, selain kota-kota besar di Indonesia, Solo juga memiliki band indie yang tidak kalah kerennya. Memang Solo terkenal dengan orang-orangnya yang kreatif, tak heran jika banyak bermunculan anak-anak muda kreatif dengan band mereka. Berikut adalah salah satu band pop punk yang terdengar asyik menurut saya, bahkan lebih asyik daripada band pop punk yang lebih tenar dari Ibukota.

Hello Sucker Punch - http://on.fb.me/17W0V9O

Tempat Nongkrong

Ada banyak pilihan tempat nongkrong di Kota Solo yang menarik untuk dikunjungi - mulai dari yang berbayar hingga yang gratis tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun, bahkan tanpa biaya parkir. Sebut saja misalnya cafe-cafe yang bertebaran di berbagai daerah di kota Solo, resto mewah di jalan protokol, wedangan di setiap sudut kota, lapangan kota dengan bermacam-macam pedagang di sekitarnya, hingga taman kota dengan latar bangunan yang asyik dan menawan. Semuanya mampu memberikan suasana yang nyaman, ramah serta menarik bagi siapa saja yang bersantai di sana. 


Teman

Saya yakin siapapun yang pernah merasakan tinggal di Kota Solo pasti memiliki teman-teman yang tak terlupakan di sana. Hal itu pula yang sangat saya rasakan ketika tumbuh besar di Kota Solo, memiliki teman-teman yang luar biasa semasa sekolah hingga kuliah - hal yang paling tidak bisa saya lupakan hingga sekarang. 

SMA N 4 Surakarta - Kelas 2B
Bagi saya, melihat kembali foto-foto semasa SMA memberikan kesan lucu dan nostalgia - saat di mana kami masih lugu dan memandang dunia hanya sebatas gejolak masa remaja. Kenangan yang akan senantiasa dikenang dan tak akan terlupakan hingga bertahun-tahun mendatang.

Selain itu, masa kuliah juga merupakan masa yang tak dapat saya lupakan hingga sekarang - tentu karena teman-teman yang luar biasa yang ada di dalamnya. Teman-teman yang senantiasa memberikan kenangan mendalam saat melalui masa-masa tersebut. Kenangan yang akan senantiasa diingat hingga bertahun-tahun mendatang.    

Sastra Inggris UNS 2006

Pernah kakak saya berujar bahwa kuliah itu tidak hanya tentang belajar di dalam kelas untuk mendapatkan pekerjaan kelak saat lulus, namun lebih dari itu kuliah juga masa di mana kita belajar tentang bagaimana berteman, tentang belajar lebih dalam tentang kebersamaan, dan tentang tanggung jawab. Ternyata apa yang dikatakan kakak saya memang benar, karena di masa kuliahlah saya menemukan indahnya pertemananan, kebersamaan dan pentingnya tanggung jawab. Suatu fase yang mendewasakan tentunya.

Sastra Inggris UNS 2006
Selalu saja ada perasaan haru saat mengingat momen-momen tersebut, terlebih saat mengetahui bahwa sekarang banyak dari mereka yang telah merantau atau pulang kembali ke Kota asalnya. Sepertinya waktu cepat sekali berlalu - di mana dulu belajar dalam ruangan yang sama dan sekarang mereka telah memiliki jalan sendiri untuk kehidupan yang baru. 

Beberapa tahun dari sekarang saat kami memandang ke belakang akan masa-masa yang telah kami lalui bersama, tentunya kami akan tertawa dengan kehidupan kami yang masih muda dan penuh cerita.  
===
Dan saya yakin, anda pun memiliki kisah yang menarik saat berada di Kota Solo; apakah itu kisah tentang pertemanan, percintaan, sekolah, keluarga, liburan, bisnis atau mungkin hal-hal lain yang hanya anda sendiri yang mampu menceritakannya. Apapun itu, satu hal yang pasti 

Solo... memang penuh dengan kenangan dan cerita



Nov 17, 2013

Dokumentasi, Jakarta 2013

photo by Ferrial Pondrafi (with a help from Photobucket) - Dufan, Jakarta

video that I made for my documentation




Credits:
Music: Lanterns On The Lake
Title: Keep On Trying
Album: Gracious Tide Take Me Home (2011)

Karena saya sangat terkesan dengan lagu dan video clip milik Lanterns On The Lake, maka saya pun mencoba membuat dokumentasi menggunakan musik latar lagu tersebut. Yaahh, meski hasilnya tidak semaksimal video clip original milik band asal Newcastle itu, namun setidaknya saya telah membuat dokumentasi bergerak tentang Jakarta. Seandainya saya telah meninggalkan Kota ini nantinya, ada hal yang bisa saya putar kembali dan mengingatkan akan kenangan yang telah saya lalui di sini.

Tidak lupa, ucapan terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman saya yang luar biasa yang telah menyempatkan waktu berharganya untuk menemani dalam mengambil beberapa gambar di Jakarta. Rizqi Arifuddin yang telah menemani berolahraga sembari menikmati suasana pagi di Car Free Day dan Opie Winnaraati yang telah menemani jalan-jalan di Kota Tua (meskipun matahari bersinar sangat panas saat itu) dan mentraktir makan siang di sana. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan tentu saja.

*Dokumentasi di atas direkam dengan menggunakan peralatan seadanya (kamera saku amatir) dan di-edit menggunakan program open source gratis - bukan karena mencoba indie, namun lebih karena keterbatasan peralatan. Saya pun mengurungkan niat untuk meng-upload melalui Vimeo karena kualitas video yang belum maksimal. Harap dimaklumi jika terdapat banyak kekurangan. 

Oct 27, 2013

Frightening Dream - An Old House With Full-European Antiques and Family Paintings On Its Living room



Have you ever dreamt the same place twice on your sleep? how does it feel? For me, it's awkwardly strange and mystical. After you open your eyes you will be reminded by the image of things you already dreamt before, and that's really strange. I can say that because i did yesterday - dreaming about the same old house's living room which i ever dreamt before. Not an ordinary living room, but an old antique living room.

As i woke, i subtly recognize that place on my sleepy mind long time ago. It was an old less-spacious house painted in white and decorated with all-European antiques. More importantly, it had a lot of paintings (or perhaps photos) on its wall. I am sure that those were family portraits paintings. Kinda odd to know lot of paintings or portraits hanging on that old house's living room.

The story started as i entered to the house with my sister. I can't remember why we came in. I think we didn't find any exit path to the main street or the other place. I always thought that the house was located in Sarpon - an area near SMP N 10 in my hometown. I couldn't be certain bout that, but i don't know why my mind said so about that location. I entered from the backdoor and i could clearly see the room and the other door on the right side. It was painted in brown and dark glasses if i wasn't mistaken.

Then as i moved deeper and look at those family portraits on the wall, i glance a big well-framed painting on the center top. Suddenly i was paralyzed and collapsed instantly to the floor right after seeing that main painting. In fact, i didn't get the image of that painting but i felt that my whole body couldn't move on the ground. The house owner then appeared. I didn't know exactly how he looked like - i guess he wore glasses.

He told me that it was the painting of an old lady. I supposed that lady was the mistress. He also told me that the painting was too 'powerful' for me. Yeah, it had mystical and supernatural power that made myself collapsed after seeing that painting. Felt like possessed i guess, but still i got my consciousness. Seriously, it was spooky and frightening. As i woke up, i still felt that creepiness.

However, i still find myself curious for the location. Of course, it is because that living room appeared twice on my sleep. I write this thing on my blog to remind me the image of that living room. Perhaps, someday i will figure out that place on the real world. Hope, it will not be frightening as what i dreamt before, and i hope i won't be collapsed on the third time at the end.




Sep 28, 2013

Kota Tua, Jakarta - 28 September 2013

Berhubung hari Sabtu adalah hari libur dan saya tidak memiliki agenda untuk dikerjakan, saya pun secara spontan dan tanpa ditemani seorang kawan pergi ke Kota Tua yang terletak di Jakarta Pusat. Perjalanannya memang lumayan jauh, berdurasi sekitar 2 lagu milik Beck dan 4 lagu dari Explosions in the Sky, namun perjalanan jauh seperti itu merupakan petualangan bagi saya. Toh, headset tidak pernah terlepas dari telinga. Selain transportasi yang mudah, ternyata biaya berwisata di tempat ini pun sangat terjangkau - malahan bisa dikatakan relatif murah.

Berikut adalah foto-foto yang saya abadikan dengan kamera ponsel jadul saya. Memang tidak setajam foto professional, namun untungnya ada Photobucket yang senantiasa membantu saya dalam menghasilkan finishing foto yang bagus. Setidaknya foto-foto tersebut mampu memberikan cerita saat saya telah meninggalkan Jakarta nanti.













"I've been spending my time in the old town. I sure miss you honey, now you're not around"
(The Corrs - Old Town)

May 14, 2013

Music for Flying



Flight is not always boring, as long as we can enjoy the trip and make us entertained. Even, flight can give us amazing experience toward our inner self if we find the right way to kill the time. For me, the best way to enjoy the moment during the flight is, listening to music. Sounding cliché as usual, but trust me, it's a blissful way to enjoy the moment during the flight than anything else. In fact, listening to music is extremely cheaper rather than buying some foods from Airplane menu; which is expensive as hell.

From what i experienced before, i find some amazing music that can bring journey toward my inner self. A journey that will not only bring peace, happiness, and self gratitude, but an inner self journey that can reveal my astonishment toward God's glory in a very conscious condition. Am i sounding too exaggerated? well no. Just trying to be more rational and emotional and the same time.

So these are some music that have magical power to boost myself up during my flight experience.

1. First Breath After Coma by Explosions in the Sky
Perfect music for the take off part. Surely, i still remember how it felt during the take off while playing this music on my flight mode cellphone. The music began with heart-beat like twinkling guitar while the plane was running fast across the base. At the moment the plane took off the ground, the bass part came; the part when the whole music played filling the void. It was like cinematic experience in which the life soundtrack played during the plane flew away from the ground. I held my breath for a quick second at that time, just to realize how perfect timing it was. Overall, it was an unnatural experience, a precise moment of excitement, and a cinematic enjoyment.



2. Dived by Balmorhea
The best music to listen thousand feet above the ground. The music began with vigorous and progressive strings, piano, and drum altogether, that could make the music successfully boosted up my triumphant heart which was sleeping very deep inside. When the heart already woke up, it could see clearly the God's majesty through the vast blue sky outside. I was just amazed with what happened to me at that time. I felt warm and nostalgic the whole time.  Just a strange feeling on the air i guess. Moreover, gazing the moving clouds when the humming part of the music came up was one of the most perfect and epic moments caused by post-rock music that I've experienced so far. Truly, i can say that this song is a masterpiece.



3. In the Aeroplane over the Sea by Neutral Milk Hotel
Don't forget also for Neutral Milk Hotel's In the Aeroplane over the Sea. I listened this song at the moment when the plane was flying above the sea (or strait perhaps). Although i didn't get any spiritual experience like the other two, but at least the title expressed explicitly what i experienced. Oh and i guessed the lyric could remind me as well that i should be more grateful of my life: "but for now we are young let us lay in the sun and count every beautiful thing we can see".







Feb 28, 2013

Ternyata Tidak Seburuk yang Saya Bayangkan





Kebanyakan orang pasti menunggu dengan suka cita kedatangan hari ulang tahun mereka. Perayaan, ucapan selamat, dan hadiah menjadi alasan tersendiri mengapa ulang tahun menjadi hal yang sangat dinanti.

Namun entah mengapa tidak bagi saya. Mungkin karena saya termasuk orang yang kurang begitu terbuka dalam mengekspresikan perasaan, sehingga bagi saya hari ulang tahun menjadi hari yang ingin saya lompati seandainya bisa. Hal ini karena sulit bagi saya untuk menjadi pusat perhatian dengan segala perayaan, ucapan selamat, dan sebagainya. Alasan yang konyol memang, namun memang begitulah adanya.

Tetapi tidak untuk ulang tahun di tahun 2013 ini. Meski dirayakan oleh keluarga saya layaknya tahun-tahun sebelumnya, kali ini hal tersebut terasa berbeda karena saya mulai mencoba untuk lebih terbuka dan menikmati apa yang dinamakan 'pusat perhatian'. Dan syukurlah, nyatanya saya masih bisa bertahan hidup hingga sekarang tanpa kurang sedikitpun. Oke, mungkin jatah umur saya lah yang berkurang, namun setidaknya tidak berkurang harga diri atau apapun hal itu yang membuat saya kurang nyaman dengan pusat perhatian.

Terlebih ada beberapa hal luar biasa istimewa yang menyertai kehidupan saya di hari ulang tahun tersebut. Saat dini hari dimana dingin masih bersemilir dan bintang masih bertaburan di langit, saya mendapatkan pesan singkat dari ibu saya. Sebuah pesan singkat yang kurang lebih mengungkapkan betapa cintanya beliau. Singkat namun penuh dengan makna dan kasih sayang, yang sangat indah layaknya cinta kasih orang tua itu sendiri.

Di pagi hingga siang hari, ucapan selamat dari teman semasa kuliah saya dapatkan. Mereka adalah Rena Aprilia, Susi Anjarsari, sahabat dekat saya Akhmad Arifin, dan adik tingkat saya Dita Ikasar. Meski kami telah lama berpisah, namun ternyata mereka masih ingat akan tanggal tersebut. Saya tidak mengingatkan mereka, tidak pula memasang hari ulang tahun di akun jejaring sosial, namun tetap saja mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya. Hal ini mengingatkan  kembali bahwa teman sejati adalah teman yang benar-benar tahu kapan ulang tahun kita. Karena mereka benar-benar tahu satu hari spesial dari 365 hari.

Di sore harinya, saya bersama kakak dan sahabat dekat saya mengikuti seminar couching di salah satu hotel berbintang lima. Saya mengira seminar tersebut seperti seminar-seminar motivasi kebanyakan. Namun ternyata dugaan saya keliru. Seminar tersebut lebih menekankan couching atau pelatihan dasar untuk mengeluarkan motivasi yang ada di dalam diri kita. Nah dari seminar tersebut saya mendapatkan pencerahan akan kelemahan diri dan kekuatan diri yang saya miliki. Bisa jadi inilah salah satu hadiah dari Yang Maha Kuasa untuk mengingatkan betapa beruntungnya saya karena telah memiliki potensi luar biasa yang ada di dalam diri saya. Tinggal bagaimana kemudian, di umur saya yang 25 tahun ini saya mampu menumbuhkan potensi tersebut dan mengurangi kelemahan diri untuk akhirnya menggapai kesuksesan di kemudian hari.

Singkat cerita, saat hari beranjak malam dan sesampainya saya di rumah, saya mendapatkan kejutan berupa kue ulang tahun dari kedua kakak saya. Berbeda dari kue ulang tahun pada umumnya, kue ulang tahun kali ini berupa cupcake yang berbentuk figur saya dan hal-hal yang melekat dengan karakter saya. Unik, lucu, dan tentu saja berbeda dari biasanya.


Kemudian saat saya membuka akun jejaring sosial twitter, betapa terkejutnya saya mendapatkan kartu ucapan dari seorang teman yang bernama Fuadiyah Kamil. Dia adalah teman dari sahabat saya Chrisna Canis Cara, dan kami baru saja berkenalan sekitar 1 tahun lalu. Selain orang yang luar biasa cerdas, Diyah juga penggemar musik dan film. Bukan musik dan film pada umumnya, namun lebih tepatnya musik dan film yang akan membuat anda bertanya-tanya. Meski baru berkenalan sekitar 1 tahun silam, ternyata dia ingat ulang tahun saya dan memberikan ucapannya dengan cara yang berbeda.


Dan saya pun akhirnya berpikir, betapa indah kehidupan yang telah saya miliki dan betapa banyak hal yang dapat disyukuri. Hmm.. ternyata memang ulang tahun tidak seburuk yang selama ini saya pikirkan.

"and i think to myself, what a wonderful word.."
(What a Wonderful World)


Jan 21, 2011

This Keyboard Hears My Confession (revision)



".... aku mencintai matahari saat terbit di pagi hari dan terbenam di sore hari.. aku yakin mereka memberikan sebuah harapan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik di esok hari. aku mencintai rumput-rumput yang berada di bawah kakiku.. aku mencintai pohon-pohon yang selalu memberikan keteduhan siapapun yang berteduh di bawahnya. aku mencintai angin yang berhembus dan menerpa wajahku.. aku mencintai air yang selalu memberikan kesegaran bagiku.. Dan aku mencintai langit, awan, hujan, mendung, serta pelangi yang senantiasa mewarnai kehidupanku.. aku mencintai setiap orang yang pernah bertemu denganku.. meski hanya bertemu untuk beberapa menit saja, namun mereka adalah kiriman Tuhan yang bertugas untuk mengajarkan sesuatu kepadaku aku mencintai setiap hembusan nafas yang keluar dari hidungku. hal tersebut selalu mengingatkanku bahwa aku masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup ini.. .... "


tulisan di atas adalah penggalan dari tulisan yang aku buat tahun 2009 lalu di notes akun jejaring sosial facebook. itu adalah sebuah pengakuan terdalam yang aku tuangkan dalam sebuah tulisan, tepatnya tulisan akan sebuah kekalahan. pengakuan akan kekalahan melawan sebuah 'penyakit', yang sebenarnya tidak perlu dikhawatrikan terlalu dalam. karena nyatanya, setelah 2 tahun berlalu semenjak aku menulis tulisan tersebut, aku masih dapat bertahan dan bernafas hingga saat ini.

memang tulisan di atas tidak ada nada kepesimisan sama sekali, namun sebenarnya, keseluruhan dari tulisan tersebut sangatlah pesimis. mungkin itulah tulisan paling pesimis yang pernah aku buat selama hidup ini.

memang tidak ada gunanya mengasihani diri sendiri akan keadaan kita, karena hal tersebut hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. dan meskipun hingga saat ini, belum ada 'obat' dalam bentuk materi yang bisa langsung dengan sekejap menyembuhkan 'penyakit' tersebut, namun ada satu 'obat' yang memang terbukti manjur untuk meredakannya; meskipun 'obat' tersebut tidak berbentuk secara fisik; yaitu selalu memberikan kebaikan kepada orang lain.
dengan memberikan kebaikan kepada orang lain, kita akan mendapatkan suatu energi, yang sulit untuk dijelaskan, yang akan memberikan kekuatan kepada kita. dan jika kita memberikannya tiap hari, sekecil apapun, maka kekuatan tersebut akan senantiasa muncul di dalam diri kita; sehingga kita pun akhirnya dapat melanjutkan perjalanan. hal ini pulalah yang senantiasa membuat diri ini bertahan hingga detik ini.

Jan 10, 2011

Customer Service


Akhir-akhir ini, banyak urusan yang mengharuskanku untuk berurusan dengan seorang customer service. Hal inilah yang akhirnya mengusik pikiranku untuk mengamati lebih jauh tentang mereka. Dan jadilah tulisan ini, yang aku tunjukkan bagi para customer service.

Menjadi seorang customer service atau yang sering disebut dengan CS tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Jika boleh jujur, CS adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Meskipun mereka hanya duduk di belakang meja di tempat yang ber AC, namun mereka harus selalu memberikan senyuman dan melayani para pelanggan yang komplain. Coba bayangkan, dari pagi hingga sore hari, mereka harus selalu tampak segar dan cerah, meskipun bisa saja kehidupan pribadinya sedang mengalami masalah. Bisa saja mereka baru saja mengalami hari yang buruk sebelum datang ke tempat kerja, misalnya seperti diputus pacar, dimarahi atasan, ataupun hal yang lebih sederhana namun menjengkelkan seperti ban bocor saat berangkat ke tempat kerja.

Mungkin banyak orang berpandangan bahwa CS bukanlah pekerjaan yang hebat dan mulia. Namun jika dilihat lebih jauh dan diamati, sebenarnya CS adalah pekerjaan yang bisa dibilang lebih dari biasa. Karena mereka mampu memberikan kenyamanan, senyuman, kesabaran, dan solusi bagi para pelanggan yang komplain akan ketidakpuasan suatu pelayanan. Mereka memang bukanlah orang yng memiliki kekuatan super yang menjadikan mereka hebat. namun mereka hanyalah orang biasa yang mampu mengendalikan kesabaran dan emosi mereka untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada orang lain.
Powered by Blogger.